di harian Kompas beberapa waktu yang lalu, sejumlah TV swasta nasional berlomba-lomba memasang iklan setengah halaman full color mengenai rating mereka. TV A mengklaim memperoleh rating 17.71 dan menjadi stasiun televisi no 1, sementara TV B mengklaim memperoleh rating 19.12 dan juga menjadi stasiun televisi no 1.
kalau dilihat dari angka, jelas nominal rating tertinggi (19.12) harusnya jadi pemenang, karena dia lebih tinggi. tapi kalau ngomongin rating, .. semua logika itu bisa disimpan, tidak dipakai, dan silakan saja masing-masing meng-klaim nomer satu.
masih di harian yang sama, minggu 9 desember 2007 hal 31, ada sebuah artikel yang judulnya agak nyentil: "Mengapa A? Mengapa N? Ya Terserah Anda.."
Artikel ini mengomentari sebuah ajang award (yang katanya sangat bergengsi) yang pemilihannya langsung berdasarkan survey pemirsa TV. jadi para pemirsa memberi vote mereka ke suatu organisasi tertentu baik melalui polling sms, internet maupun form polling tertulis, dan organisasi itulah yang menentukan pilihan terbanyak. yang dipilih terbanyak oleh pemirsa langsung otomatis menjadi pemenang.
jadi betul, .. semuanya TERSERAH ANDA. begitu pula dengan rating.
rating ini berubah sesuai mekanisme "anda nonton apa jam berapa dan berapa lama". betul-betul fluktuatif. misalkan kita nonton satu siaran langsung pertandingan bola di TV C, yang pada saat itu juga ada jutaan pemirsa TV lainnya nonton siaran yang sama, maka saat itu juga mungkin acara yang anda tonton tersebut mendapat rating tinggi. sensasional. acara TV lain tergeser, tidak ditonton, dan membuat stasiun TVnya 'tidak laku'.
padahal, di jam berikutnya, setelah siaran langsung bola selesai, jutaan pemirsa itu mungkin beralih nonton DVD, nonton sinetron di TV lain, atau mandi, atau pergi main, atau bercinta (dengan tetangga) atau apapun, dan di saat itu pula rating langsung bergeser. TV C yang siaran langsung bola tadi langsung anjlok, tidak memimpin rating. bisa jadi direbut TV lain, atau bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali TV yang ditonton jadi tidak bisa di-rating.
sampai di sini, bisa tau kan kenapa rating itu sangat fluktuatif? jadi ga salah kalau tiap TV mengklaim diri mereka sebagai 'stasiun TV no 1' -- karena itu tergantung pada saat siaran apa, acara apa, jam berapa, dan berapa lamanya. tiap hari bisa berubah. bahkan tiap jam. bahkan mungkin tiap 10 atau 5 menit sekali.
yang sampai sekarang saya masih ga bisa ngerti, .. kenapa rating ini seolah jadi momok bagi stasiun TV? kalau rating-nya anjlok, seakan stasiun TV ngga punya muka, ngga laku. kalau ratingnya tinggi, seakan dia pemegang pasar dan harga jual time-slot stasiun TVnya pun tinggi. kenapa sih mesti begitu?
dan ironisnya, .. ketika saya mencoba melihat acara apa yang menyebabkan rating TV menjadi tinggi, ternyata acaranya segitu aja. itu-itu aja; sinetron indonesia (sok) india (yang di-dubbing pula!!), atau acara show yang mempermalukan kontestan tapi melibatkan sms dari pemirsa, dsb. huh! huh! huh! ngga mutu sekali!!!..
kenapa 'acara cacat' seperti itu justru mendapat rating tinggi? .. karena ditonton orang! dan kenapa orang jadi rajin nonton 'acara cacat'? .. apa karena ga ada pilihan acara lain? dan kenapa ga bikin acara lain yang 'ga cacat'? .. karena rating bilang 'acara cacat' ini laku ditonton, jadi buat apa bikin 'acara ga cacat' yang ga laku ditonton dan ga akan naikin rating? ..
huhuhu!
ini menjadi sebuah lingkaran setan yang ga bisa diputus.
banyak stasiun TV yang (masih) punya idealisme tinggi dan mencoba membuat program acara yang 'ga cacat' -- tapi karena mentok di masalah ga bisa ngangkat rating, maka banyak acara itu perlahan-lahan hilang.
"biaya produksi tinggi. rating jelek, ga ada iklan. kalau ngga ada yang pasang iklan atau beli blocking-time, kita bisa bangkrut. ini bukan TV sosial. ini industri."
memang, biaya produksi broadcast sangat amat mahal sekali. gila-gilaan.
TAPI kalau industri yang gila-gilaan mahalnya itu hanya akan berhenti di kejara-kejaran rating (yang ga penting!), gimana dunia pertelevisian bisa maju dan mencerdaskan?..
kalau kita punya masalah, berharap saja daun di halaman berubah jadi emas, atau tokek di langit-langit berubah jadi peri baik. kalau kita mau terkenal, pasang aja tampang paling bego dan gaya paling norak, niscaya kita dielu-elukan dan terkenal.
itu karena rating.
terlalu melebih-lebihkan sih .. tapi ya memang begitu hasilnya. :)