awal bulan kemarin, saya bantuin sodara yang nikahan. kebanyakan megang kamera, walaupun ga jarang juga bantuin nyupirin, bantuin pakai kostum, dan bantuin nggodain temen-temennya yang cantik.
minggu berikutnya bantuin kawan dekat foto pre-wed untuk nikahan mereka tahun depan. konsepnya adat betawi: ada ondel-ondel, tanjidor, gambang kromong, sampai delman dan kerak telor. cuma mau kawinan koq ribetnya sampai kayak mau bikin Jakarta Fair di bulan Februari, sih..
minggu pagi (kemarin), saya bantuin seorang teman yang (baru mau) nikahan. motoin mereka di rumah mempelai cewe yang rumahnya lumayan jauh dari rumah saya -- yah,.. kira-kira jaraknya 70 menit naik motor, dua kali isi bensin dan 4 kali ganti sendal.
mau apalagi?
bantuan saya dibutuhkan paling-paling hanya sebatas jadi tukang foto, bukan 'bantuin ngicipin jadi mempelai' atau 'bantuin bikin anak'. (padahal sumpah, saya mau loh bantuin bikinin anak, kali-kali berhasil..)
hahaha!
intinya, bulan desember ini banyak sekali kegiatan yang berhubungan dengan pernikahan. semuanya orang-orang yang saya kenal - dan tentunya - mengenal saya. sayangnya, dari 3 pasangan tadi, ga ada satu pun yang punya konsep 'lite-marriage', alias 'menikah-dengan-santai'. semuanya serba ribet serba repot dan serba tegang.
yang tadinya ga tahan pakai baju resmi, tiba-tiba jadi tahan berjas lama-lama (di udara panas mendidih, pula!)
yang tadinya haircut-nya selalu emo dan ga pernah lebih dari 10 cm, tiba-tiba bisa rela berambut gondrong dan siap berkonde bergelung-gelung. belum lagi make up yang harus mencukur alis (yang sangat tebal dan hitam dan dia bangga-banggakan selama ini).
yang tadinya nyablak dan sering lupa jadwal tiba-tiba jadi jadi pendiam, halus suaranya, teratur tutur katanya dan jadi punya to-do-list detil yang dihafal di luar kepala.
apa iya pernikahan bisa mengubah seseorang sedemikan rupa?
apa iya pernikahan HARUS mengubah seseorang jadi sedemikian rupa?
kenapa ya, ngga ada pernikahan yang 'seperti-hari-biasanya'?
yang ga perlu persiapan ribet, ga perlu panitia dan seragam-seragamnya, ga perlu aturan ini-itu, ga perlu basa-basi-busuk.
hanya seperti hari biasa aja: bangun pagi, mandi, sarapan, pergi (naik bis kota atau mikrolet atau ojek atau bajaj atau apapun) ke tempat kekasihnya, atau langsung menuju ke rendezvous tempat janjian nikah, tanpa make-up tanpa kostum aneh-aneh tanpa perasaan tertekan.
setelah bertemu, saling berucap "aku-cinta-padamu-dan-ingin-hidup-bersamamu" dan berjanji "aku-akan-selalu-ada-untukmu-apapun-yang-akan-terjadi" dan resmilah mereka saling menjadi pasangan suami-istri.
kenapa ngga ada pernikahan yang begitu sih?
ga perlu ada lamaran lengkap dengan segabruk keluarga. ga perlu ada pre-wed ini-itu (toh selama pacaran sudah punya banyak koleksi foto bareng atau video 3GP kan? hihihi). ga perlu rancangan undangan atau bunga atau cari gedung atau bikin baju kawinan..
kenapa ngga ada pernikahan yang ngga ribet sih?
di sebuah buku (atau artikel di majalah? saya lupa detilnya..) pernah saya baca, suku Inka kuno(?) memiliki tradisi pernikahan yang unik: si pengantin berjalan ke suatu bibir tebing -- yaitu tempat mereka akan janjian nikah -- bertemu di situ, lalu mereka duduk berhadapan. lalu mereka makan makanan yang mereka bawa -- biasanya dendeng kuda, kata artikel itu. dan setelah itu mereka akan saling memandang (mungkin sekitar 5 menit), saling mengelus pipi pasangannya, dan jadilah mereka suami-istri.
sangat sederhana sekali, bukan?
saya ingin sekali bikin pernikahan yang begitu; pernikahan yang 'ringan', yang sederhana. lite-marriage.
tapi masalahnya .. ngga ada satupun 'korban' saya yang konsep pernikahannya mau lite, ringan, sederhana. mereka maunya serba wah, serba glamour, serba besar-besaran dan ribet-bet-bet..
pernah suatu kali saya setengah paksakan ide lite-marriage ini ke seorang kawan (dan keluarganya). alih-alih menyetujui (didengar dengan serius pun tidak!!!), mereka malah menyuruh saya sendiri saja yang memakai ide lite-marriage itu.
nah! ini dia! ini juga satu masalah lagi..
masalahnya yaitu .. kapan saya pernah mikir mau nikah??
plih des! yang benah ajer!